Ceritaku13 Oktober 2026

Why PPG

Lulus dengan gelar S.Pd., saya sempat kehilangan arah. Hobi di dunia kuliner, dari memasak, baking, sampai barista, membawa saya ke PPG Prodi Kuliner. Saya akhirnya lolos dan melangkah sebagai calon guru yang tahu apa yang ingin diperjuangkan.

4 views· 0 tanggapan
Why PPG

Setelah wisuda, saya sempat berpikir hidup akan terasa lebih jelas. Nyatanya, justru sebaliknya. Toga sudah dilepas, foto-foto sudah diunggah, ucapan selamat sudah berhenti berdatangan, dan saya duduk di kamar dengan satu pertanyaan besar:“Habis ini, saya mau ke mana?”

Melihat teman-teman satu per satu sudah mulai bekerja, rasa tertinggal pelan-pelan muncul. Tidak jarang saya merasa gelar S,Pd. yang saya bawa pulang belum bisa menjawab apa pun.

Di tengah kebingungan itu, sambil juga sibuk dengan persiapan pernikahan, saya mulai mengisi hari dengan hal-hal kecil yang menjadi hobi saya. Selain senang mengulik musik dengan piano, saya belajar memasak, baking, dan juga barista. Hal tersebut memicu saya untuk melanjutkan pendidikan berdasarkan hobi. Bertepatan dengan perasaan tersebut, saya mendengar informasi bahwa PPG membuka program studi kuliner. Dari situ saya mulai sadar, mungkin ini jawaban dari kebingungan saya selama ini. Namun saya juga sadar bahwa saya masih banyak kekurangan. Jika meneruskan pendidikan menjadi guru kuliner, saya merasa ilmu tata boga yang saya miliki belum berdasarkan ilmu yang matang dan belum banyak yang saya ketahui.

Keputusan mendaftar tidak langsung mudah. Saya ragu, takut gagal, dan khawatir tidak bisa bersaing. Tetapi saya teringat betapa lamanya saya berada di titik bingung, dan saya tidak ingin terus berdiri di tempat yang sama. Saya membaca informasi di internet, bertanya kepada kakak tingkat, lalu mulai menyiapkan berkas satu per satu: ijazah, transkrip, surat-surat, dan data lain yang harus dilengkapi. Prosesnya tidak selalu mulus. Ada hari ketika sistem pendaftaran error, ada malam ketika saya begadang belajar untuk persiapan seleksi, dan ada momen ketika keraguan datang:“Apakah saya mampu bersaing?”.

Tetapi dukungan keluarga dan calon suami saya saat itu membuat saya bertahan. Bunda hanya berkata sederhana, “Kalau niatmu baik, jalannya akan dibukakan.” Kalimat itu saya pegang erat sampai hari pengumuman tiba.

Ketika akhirnya dinyatakan lolos, saya sadar bahwa kebingungan yang dulu saya takuti ternyata adalah bagian dari perjalanan yang mengantar saya ke sini. Kini saya melangkah masuk PPG bukan lagi sebagai lulusan yang kehilangan arah, melainkan sebagai calon guru yang tahu apa yang ingin diperjuangkan.

Tanggapan (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Tanggapan

Tanggapan Anda akan ditinjau oleh guru sebelum tampil publik.